Pukul Dua Lewat Empat Puluh Satu Menit
Hujan lagi dan lagi, bukan tentang aku yang benci hujan tapi awal perjalananku selalu bertemu dengan hujan. Seperti sudah ditakdirkan untuk selalu bersama dengan hujan. Pertama kali aku sampai di kota ini hujan juga menyambutku, sekedar titik-titik dia tidak sampai membuat bajumu basah. Setelahnya dilanjutkan dengan listrik padam beberapa jam, seperti itulah sambutan kota ini akan kehadiranku. Ini adalah kesekian kalinya perjalananku dimulai dengan rintik-rintik. Memang sudah musimnya untuk hujan turun, jadi aku tidak bsa mempermasahkannya. Aku hanya merasa hujan terlalu baik untukku. Bukan hanya tentang keberangkatanku, kedatanganku juga sering disambut dengan basahnya jalanan. Sisa-sisa air itu masih menggenang saat aku lewat. Berjalan seorang diri dengan menenteng barang di kanan-kiri seolah sudah menjadi hal biasa. Mungkin banyak yang jika aku aneh, perempuan mungil dengan barang-barangnya atau perempuan mungil dengan body pack tiga puluh liter yang penuh isi? Mungkin ada ...