Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kisah baru

Sedikit Kilas Balik

Gambar
Circa 6 tahun yang lalu saat Davit menjemput ke rumah untuk ke Brak 4 (re: papat). Bukan untuk kencan, tapi menunggu kawan-kawan turun dari puncak. Setelah menikah candaan 'kenapa gak dari dulu (saat itu) aja ya kita pacaran.' Aku pun sering kali menimpali dengan bercanda juga, 'kalau pun iya waktu itu pacaran, belum tentu kita akan berada di titik ini, saat ini.' Semesta sedang memberi tempaan sedikit lebih lama untuk kami berdua pada saat itu. Memberi kesempatan kepada kami untuk bertumbuh dan bertemu kembali pada saat yang tepat. Saat itu kamera ponsel belum secanggih saat ini dan kualitas yang masih rendah. Tak ada foto kami berdua, hanya swafotoku. Demi memastikan ingatanku akan perjalanan saat itu, aku mencari berbagai folder yang berisi foto-foto, berharap menemukan wajah kami berdua dalam satu bingkai. Namun apalah daya, tak ku temukan. Demi memuaskan keinginanku, ku ajak kamu ke sana kembali. Sembari melatih tubuh ini untuk berjalan kaki. Akan tetapi kabut tipi...

31 Agustus 2018

31 Agustus 2018 Menuju jam sembilan malam Untukmu Yang mungkin meragukanku Terima kasih untuk segala pengertian dan kelapang hati menemani saya selama ini. Saya bukanlah orang yang sempurna. Egois mungkin adalah sifat dominan saya. Keras adalah watak yang saya miliki. Berkeras hati pada pendirian adalah cara saya untuk dapat melewati segala permasalahn yang datang kepada saya. Buta, bisu dan tuli adalah cara saya untuk bertahan ketika ada yang menyerang saya. Percayalah setiap orang punya caranya untuk dapat bertahan. Saya juga percaya kamu pun juga punya caramu sendiri. Adu argumen adalah makanan sehari-hari kita dulu. Masih ingatkah kamu? Sering kali argumen kita tidak menemukan titik temu dan masih tetap bercabang. Ujung kedua argumen kita tidak bertemu dalam banyak pembahasan. Saya melihatmu bukan dalam perbedaan   yang ada dalam diri kita, tapi saya melihat dari sisi yang lain. Sebab saya yakin perbedaan itu dapat kita kompromikan sampai pada ujung kesepakata...

Mari Bersahabat!

Kutitipkan dia pada seseorang yang semoga bisa menjaganya. Bukan tanpa alasan, sebab dia suka merajuk tanpa melihat waktu. Baru beberapa menit aku ajak berkerja sering kali dia surah memilih untuk tidur. Aku belum mengajakmu bekerja, tapi kamu sudah memilih beristirahat. Mungkin salahku yang tak merawatmu dengan benar selama ini. Mungkin salahku yang telah memaksamu hingga larut malam terjaga. Mungkin salahku juga jika pernah beberapa kali kamu tidak beristirahat. Terima kasih sudah menemaniku selama empat tahun terakhir. Maka kali ini aku kembali bersama dengan sikecil, seperti empat tahun lalu. Mereka sama-sama menggunakan baju merah. Tetapi sesungguhnya mereka berbeda. Harus ku rawat dengan baik, sebab ini hanya menjadi milikku sementara. Mari bersahabat 😀

Dewasa

Dewasa, seperti apa sih definisi dewasa menurut kalian? Menurutku kalau hanya berdasarkan KTP yang telah kalian pegang itu masih belum pas (atau apa ya kek belum mantep). Akan tetapi ini hanya pendapatku saja, kalian boleh memiliki pendapat yang beda. Dewasa menururtku itu adalah saat dimana kamu sudah (sering dimintai) tanda tangan atau diberi kuasa akan aset yang berharga. Mengurus keperluan administrasi ke kantor-kantor pemerintahan atau pihak yang berwajib seorang diri. Lalu kamu akan menemukan beberapa kejanggalan akan sistem birokrasi. Dewasa terkadang menjadi sangat menyebalkan dan melelahkan. Dimana sering kali ingin beristirahat tapi tak dapat, ingin bercerita namun semua juga telah lelah dengan permasalahnya. Dewasa pada akhirnya memaksamu untuk mengambil sebuah keputusan (yang mungkin) tanpa kamu diskusikan dengan orang terdekatmu. Dewasa oh dewasa, semua keputusanmu harus menjadi pertanggung jawabanmu.

Sebulan di Rumah Sakit

Gambar
Senyaman apapun tinggal di rumah sakit tentu tidaklah enak. Pengalaman tinggal satu bulan di rumah sakit membuatku sadar bahwa harga dari sebuah sehat itu sangat mahal. Tahun lalu aku semepat diopname selama empat hari karena demam berdarah. Empat hari dirawat sudah seperti waktu yang lama. Namun kali ini aku haru tinggal di rumah sakit ntah sampai kapan. Pukul dua belas malam lewat sekian menit aku kami akhirnya sampai di ruang rawat inap. Hari itu hari minggu,aku masih mengingatnya. Separah apapun pasien jika masih di IGD maka mereka harus menunggu selama kurang lebih dua jam. Malam itu IGD sedang sepi hanya ada beberapa pasien. Aku yang tidak tahu rumah sakit ini merasa sedikit takut. Bangunan rawat inap dan ruangan IGD terpisah oleh lapangan titik kumpul. Dimana kedua ruangan itu dihubungkan oleh lorong panjang dan menanjak. Sebab ruang rawat inap terdiri dari dua lantai (sebenarnya ini masih dalam proses pembangunan lantai selanjutnya). Ya, malam itu ruang rawat inap berad...

Kabar itu

Sore itu Jogja sedang diguyur hujan yang sangat deras. Awan hitam sudah menggantung sejak beberapa jam sebelumnya. Antara niat untuk pergi berbelanja dan tidak, lalu akhirnya ku putuskan untuk pergi juga bersama seorang kawan. Hujan cukup deras menahan kami untuk bergegas pulang. Sampai akhirnya menjelang adzan magrib kami baru memutuskan untuk pulang, ditemani rintik hujan yang sudah mulai berkurang. Ku masak bahan-bahan yang aku beli tadi. Belum sampai matang semua bahan yang aku masak, bunyi ponsel terdengar nyaring. Entah apa yang mendorongku untuk membawa ponsel ke dapur sore itu. Padahal aku tidak biasa membawa ponsel ke dapur. Sejak pertama aku menginjakkan kaki di kota ini sudah aku persiapan jika suatu saat harus mendapat telfon seperti ini. Ya, sejak empat tahun yang lalu aku sudah sangat siap ketika harus mendapat kabar yang memintaku untuk pulang secara mendadak. Hujan masih turun setelah aku menyelesaikan telfon yang aku terima. Segera aku selesaikan memasakku ...