Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kehidupan anak kuliah

Jika Rindu

Gambar
Kalau kangen jangan lupa cek blogku – 9 September 2018 Mungkin maksud dari pesan itu adalah dia ingin berpamitan kepadaku. Sebuah pesan untuk selalu menyapa dia melalui tulisan. Ya, sama seperti biasanya pun jika kami jauh maka tulisan menjadi perantara kami untuk berkomunikasi. Namun media yang kami gunakan berbeda. Melalu blog hanya saya yang akan tahu pakah saya sudah mengunjunginya atau belum dan jika saya tidak mengunjunginya pun dia tidak akan sakit hati. Kepulanganmu kali ini mungki berbeda dengan biasanya, sebab kamu tidak akan segera berangkat kembali ke kota ini. Tapi saya mencoba memaknainya dengan berbeda. Saya mencoba untun memberi pengertian kepada diriku sendiri jika kamu hanya pulang seperti biasanya dan kami dapat bertemu kembali. Perjalananmu ke ibu kota bagiku hanya sebatas liburan, seperti kamu hanya pergi keluar kota pada umumnya. Pun denganku yang juga pulang ke rumah beberapa hari sebelum keberangkatanmu. Mungkin Tuhan memang tak mengingikan kita untu...

Jogja Mulai Macet

Gambar
Musim liburan masih belum berakhir pada saat ini. Ujian mandiri sebagai jalur seleksi terakhir di UGM diselenggarakan hari ini. Biasanya gedung-gedung dilingkungan UGM digunakan untuk seleksi klaster Saintek, Medika, dan Agro, sedangkan klaster Soshum umumnya dilangsungkan di luar kampus UGM namun masih dalam lingkup Jogja. Pagi ini aku berniat ke pasar minggu yang ada di sekitaran UGM. Akan tetapi saat aku sampai di dekat lokasinya kok malah sepi dan tidak ada tanda-tanda terdapat pasar minggu. Setelah aku mencari informasinya di Twitter memang hari ini pasar minggu ditiadakan. Singkat cerita aku akhirnya ke kos seorang kawan hingga jam satu siang lebih. Saat akan menuju pemberhentian Trans Jogja yang terdekat, betapa aku terkejut melihat jalan raya di depan gang. Antrian kendaraan di simpang empat sungguh padat. Mobil dan motor masih dapat melewati lampu merah meski dengan kecepatan yang rendah. Saat aku sudah di dalam Trans Jogja, apa yang terjadi? Trans Jogja yang a...

Cerita yang(ter)lupa(kan)

Malam telah semakin larut Dan ini telah sampai pada bulan keempat diparuh kedua Harusnya ku menuliskan tentangmu jauh dua bulan yang lalu Kemanakah aku saat itu? Entahlah, ku lupa atau sengaja lupa Ku sibuk atau menyibukan diri -- Teruntuk seseorang yang ku kenal saat kami perpindah ruang tes (hampir) tiga tahun yang lalu Entah apa yang membuatku nyaman untuk berada di dekatmu Seorang kawan yang ku kunjungi pertama kali saat itu Penampilanmu saat itu ternyata tak dapat menggambarkanmu yang nyata Sampai akhirnya aku melihatmu yang 'gila' akan adanya -- Waktu berjalan, kamu menjadi salah satu orang yang ku percaya untuk mendengar keluh kesahku Kamu adalah pendengar yang baik Dulu, dulu, kami sangat sering menghabiskan waktu bersama Mungkin aku seperti anak ayammu, selalu mengikutimu kemana pun kamu pergi Seolah takut untuk sendiri -- Namun, waktu juga yang mengajariku untuk berjarak denganmu Waktu dan keadaan membuatku harus memiliki jarak d...

Vas Ember

Gambar
Dia berkata jika bunganya sudah tidak indah lagi. Tak ada vas indah yang dapat menampung bunga itu, hanya ember (kaleng) warna abu-abu itu. Sudah dua kali ku saksikan ember itu berubah menjadi vas dadakan. 

Selamat Lapangan (Postingan yg Tertunda)

Gambar
Selamat (ke) lapangan. 1. Semangat nemui dosen dan karyawan FIB UGM, bersahabatlah dengan rerimbunan. 2. Semangat hidup di lingkungan pabrik, jangan lelah menghadapi struktur perusahaan (& birokrasi). 3. Semangat laju Jogja-Kulonprogo,  jangan capek di jalan, tenggang waktu kurang dikit loo πŸ˜‚, habis itu balik Banjar tak apa. Semangat semuaaaaa πŸ’ͺ🏼πŸ’ͺ🏼πŸ’ͺ🏼πŸ’ͺ🏼 [minjem foto yaaakkk]

Kabar itu

Sore itu Jogja sedang diguyur hujan yang sangat deras. Awan hitam sudah menggantung sejak beberapa jam sebelumnya. Antara niat untuk pergi berbelanja dan tidak, lalu akhirnya ku putuskan untuk pergi juga bersama seorang kawan. Hujan cukup deras menahan kami untuk bergegas pulang. Sampai akhirnya menjelang adzan magrib kami baru memutuskan untuk pulang, ditemani rintik hujan yang sudah mulai berkurang. Ku masak bahan-bahan yang aku beli tadi. Belum sampai matang semua bahan yang aku masak, bunyi ponsel terdengar nyaring. Entah apa yang mendorongku untuk membawa ponsel ke dapur sore itu. Padahal aku tidak biasa membawa ponsel ke dapur. Sejak pertama aku menginjakkan kaki di kota ini sudah aku persiapan jika suatu saat harus mendapat telfon seperti ini. Ya, sejak empat tahun yang lalu aku sudah sangat siap ketika harus mendapat kabar yang memintaku untuk pulang secara mendadak. Hujan masih turun setelah aku menyelesaikan telfon yang aku terima. Segera aku selesaikan memasakku ...